Cerpen
Nasihat Peri
Oleh :
Nur Cahyo
Vonis dokter menyatakan kakiku patah dan aku harus dioperasi untuk menyambung kembali tulangku. Aku benci, aku benci ini semua ! Kenapa kecelakaan ini harus menimpa diriku ? Kenapa mobil itu harus menabrakku ketika aku menyeberang pulang sekolah ? Kupeluk Mama dengan menumpahkan air mataku seolah anak bayi yang minta susu.
"Mama, aku nggak mau dioperasi !"
"Karina, ini demi kebaikanmu juga. Kamu ingin main basket lagi nggak ?" tanya mama lembut seakan mengerti kecemasanku.
Mama membelaiku penuh kasih sayang, aku mendekapnya makin erat. Akhirnya berkat bujukan Mama dan Papa, aku mau juga dioperasi. Aku nggak mau selamanya patah kaki. Kata orang-orang bisa cacat seumur hidup. Hiii, membayangkan tidak bisa jalan seumur hidup, aku semakin merinding.
Akhirnya kujalani juga operasi penyambungan tulang itu, kugenggam tangan Mama erat sebelum aku tertidur karena pengaruh bius total. Operasi itu berjalan dengan sukses, kakiku kini terbalut gips yang cukup menyiksaku. Perih rasanya ! Aku ingin menangis karena sakit luka operasi yang tak dapat kutahan.
Dua minggu kemudian perban itu dilepas dan aku diperbolehkan berjalan menggunakan tongkat. Mama sudah memintakan aku ijin kepada guru disekolah dan aku diijinkan untuk mengikuti ulangan-ulangan susulan. Semenjak kakiku digips dan berada di rumah, sahabatku Wiwid rajin datang ke rumah dan membawakan catatan-catatan untuk kusalin kembali.
Semenjak aku berada di rumah membuatku merasa bosan, namun untuk keluar rumah aku juga tidak berani. Aku nggak mau orang lain terutama teman-temanku melihatku berjalan dengan menggunakn tongkat. Kerjaku seharian hanya mengurung diri di kamar dan sesekali surfing di internet dan membalas e-mail dari teman-teman chatting.
Sebulan telah berlalu, gips dikakiku telah dilepas oleh dokter namun aku tetap diharuskan menggunakan tongkat. Kakiku nampak masih bengkak yang harus kututup dengan kaus kaki. Sore itu Wiwid datang ke rumahku dengan membawakan aku catatan-catatan sekolah.
"Karina, wali kelas kita sering menanyakan keadaanmu. Katanya sebentar lagi ulangan-ulangan, kalau bisa kamu secepatnya masuk sekolah. Jangan sampai kamu nggak ikut Ebtanas SD."
Perkataan Wiwid membuatku pusing, aku masih belum siap dilihat teman-temanku dengan menggunakan tongkat dankaki bengkak seperti ini. Mereka akan memandangku sebelah mata dan mungkin anak-anak laki-laki di sekolah akan mengejekku. Mama, aku nggak mau diledek seperti itu.
"Aku masih belum siap masuk sekolah, Wid. Aku nggak mau diejek teman-teman karena keadaanku." Jawabku pendek.
"Itu sih terserah kamu, kalau menurutku sebaiknya Karina cepat masuk sekolah dan nggak usah malu dengan keadaanmu. Aku yakin teman-teman bisa menerima keadaanmu." Kata Wiwid seraya membelai punggungku.
'O iya besok ada perlombaan baca puisi antar kelas, kamu kan suka buat puisi. Teman-teman merasa kehilangan jagoan baca puisi kelas 6-C, sebenarnya mereka berharap kamu bisa ikut lomba baca puisi." Tambah Wiwid.
Aku nggak peduli, untuk masuk sekolah saja aku merasa malu apalagi baca puisi yang ditonton oleh anak-anak satu sekolah. Mama yang rupanya juga mendengarkan obrolan kami berdua, ikut menimpali.
"Karina sayang. Dokter bilang keadaan kakimu sudah mulai membaik dan ia juga mengizinkan kamu sekolah. Apalagi sekarang sedang musim ulangan." Nasihat Mama.
"Aku nggak mau ketemu teman-teman, aku nggak mau diledek gara-gara menggunakan tongkat."jawabku singkat seraya mengarahkan tongkatku menuju kamar.
"Pokoknya Karina nggak mau masuk sekolah." Tambahku, kali ini dengan suara lantang.
Aku lalu merebahkan diri dikasur seraya menangis membayangkan ejekan-ejekan teman-teman atau bahkan nanti guru-guru memintaku pindah ke sekolah anak-anak cacat. Kutumpahkan semua kesedihanku sendirian, tanpa terasa semilir angin yang masuk lewat jendela membuatku mengantuk.
Sinar terang itu menyilaukan mataku, kubuka mata dan memandang sekeliling. Ini bukan kamarku, mana Mama, mana Papa ? Aku merasa ketakutan. Disekelilingku semuanya hanya tampak awan putih dan cahaya yang terang, aku tertidur di atas awan. Mendadak badanku menggigil karena ketakutan. Mama, aku dimana ?
"Karina…." Sebuah suara memanggilku dengan lembut dari belakang.
Kucari asal suara itu namun tidak kutemukan siapa yang memanggilku, aku makin ketakutan.
"Aku disini Karina."
Kulihat sesosok peri kecil dengan sayap seperti kupu-kupu, badan bercahaya seolah kunag-kunang terbang dihadapanku, sejenak aku ketakutan dan tidak mempercayai semua ini. Mama tolong Karina !
"Setiap anak punya kata hati, Karina. Aku adalah kata hatimu, tugasku adalah membimbingmu untuk mengikuti kata hatimu, jangan bohongi dirimu Karina."jawab peri kecil itu sambil tersenyum, manis sekali.
"Pejamkan matamu." Suruh Peri kecil itu.
Aku merasakan peri kecil itu menyentuh diriku dan tampaknya ada perubahan pada badanku, kubuka mata ini setelah peri kecil menyuruhku.
Wow, kini aku memiliki sayap kupu-kupu pada punggungku dan kakiku tidak terlihat bengkak lagi. Kucoba kepak-kepakkan sayap itu, keluar cahaya terang seperti milik peri kecil.
"Sayap ini indah sekali !" Kataku. Peri kecil hanya tersenyum.
Peri kecil mengajakku terbang menembus awan yang putih bersih Kukepakkan sayap bercahaya ini, sesekali aku jatuh saat terbang, namun peri kecil membimbingku untuk terbang lagi. Aku hanya bisa memejamkan mata karena takut ketinggian, namun peri kecil menyuruhku untuk membuka mata lebar-lebar. Kemudian kami terbang merendah ke arah persimpangan lalu lintas yang berada di tengah kota kota.
Tampak dihadapanku seorang anak seusiaku dengan hanya bertumpu pada satu kaki. Anak itu melompat kesana kemari dengan susah payah demi menjajakan koran dagangannya. Anak itu tidak merasa malu dilihat teman-temannya, bahkan tak jarang pegendara motor memarahinya karena menghalangi jalan mereka. Namun anak itu tidak merasa marah atau malu, dengan tenang dia menjajakan koran kembali setelah lampu lalu lintas menyala merah.
Peri kecil hanya tersenyum kepadaku kemudian mengajakku terbang kembali ke angkasa raya, kali ini aku diajak menuju sebuah rumah kumuh yang penuh dengan lukisan-lukisan indah, salah satunya ada yang bergambar kupu-kupu kuning kesukaanku.
Astaga ! Ternyata lukisan-lukisan indah itu dilukis dengan menggunakan kaki oleh anak yang sebaya denganku. Dengan sabar dia celupkan kuas ke dalam cat minyak dengan menggunakan kakinya. Anak lelaki itu tidak memiliki dua tangan sama sekali tetapi dia tetap melukis dengan tersenyum. Tidak tampak kesedihan di mukanya, yang ada hanya seulas senyum dimukanya ketika ia berhasil menyelesaikan hasil karyanya.
Peri kecil kemudian melesat kembali dan aku mengejarnya. Kali ini sasaran kami kali ini adalah emper toko di malam hari yang digunakan untuk warung-warung lesehan seperti di Malioboro.
Tampak dihadapanku seorang anak perempuan berjalan menyeret tubuhnya dengan kedua tangan, karena kakinya buntung. Dia menggunakan sandal jepit bukan pada kakinya tapi pada tanggannya. Dengan ceria ia menmetik gitar kecil yang disandang dipunggung menyanyikan lagu-lagu di warung-warung dengan mengharapkan imbalan. Tak jarang pemilik warung dengan tega mengusirnya, anak itu tidak marah. Dengan terseok-seok dia menyeret tubuhnya menuju warung sebelah mengharapkan keberuntungan.
Peri kecil menggerakkan tongkatnya ke arah kami berdua dan sekejap mata kami telah berada kembali di awan putih semula. Dengan tersenyum dia memandang lembut ke arahku.
"Apa yang kamu rasakan dari perjalanan kita tadi ?"
"Aku merasa malu peri kecil. Mereka walaupun memiliki cacat yang lebih parah dariku namun tidak pernah merasa malu, bahkan mereka tetap semangat meski diusir atau dihina, meraka tidak merasa patah semangat dengan cacat mereka." Kataku seraya menitikkan air mata.
"Sedangkan aku….. aku hanya mengalami cacat sementara saja sudah merasa malu dan nggak mau sekolah. Aku malu pada mereka!"
"Karina, anak-anak yang kamu lihat tadi bukan mimpi, mereka nyata ada disekitarmu. Kenapa mereka tak pernah merasa malu atau minder dalam menghadapi hidup ? karena mereka punya semangat dan mendengarkan kata hati mereka. Walaupun cacat mereka nggak ingin menjadi beban orang lain. Bersyukurlah kamu masih memiliki Mama Papa yang selalu mendengarkan keluh kesahmu. Mungkin anak-anak tadi bahkan tak punya orang tua untuk bermanja-manja."
"Peri kecil….mulai sekarang Karina janji nggak akan menyusahkan Mama dan akan sekolah lagi." Kataku sambil tersenyum
"Ikuti kata hatimu." Kata peri kecil.
Peri kecil lagi-lagi tersenyum, kemudian menggerakkan tongkatnya kearahku. Cahaya putih ini menyilaukan mataku kembali. Badanku terasa ringan dan kepalaku pusing serasa berputar putar..
Hah ! Aku terbangun dari mimpiku dengan badan keringatan. Kulirik jam dinding di kamarku, jam setengah enam pagi. Tanpa berpikir panjang kugerakkan tongkatku menuju kamar mandi kemudian berganti dengan pakaian sekolah. Kulihat Mama tersenyum tanpa mengucap satu katapun ke arahku. Dengan sabar Mama membantu membereskan peralatan sekolahku. Mama mengantarku sampai mobil, kali ini aku diantar Papa.
Saat lampu lalu lintas menyala merah, Papa membuka jendela mobil untuk membeli koran pagi. Astaga ! Anak penjual koran itu seperti dalam mimpiku, peri kecil tidak bohong, mimpiku tadi malam adalah nyata.
"Sebentar, Pa!" Kataku kemudian mengambil bekal makan siang dan kuberkan pada anak itu. Papa tidak berkomentar hanya mengulas senyum diantara kumis tipisnya.
Jam tujuh lewat lima ! Kugerakkan tongkat menuu kelas 6-C. Hatiku berdebar-debar kencang khawatir apa yang kutakutkan terjadi, aku takut teman-teman memandangku aneh. Kuketuk pintu kelas dengan kepala menunduk, aku tak berani membayangkan yang akan terjadi.
"KARINAA…KITA KANGEN NIH !" Teriakan teman-teman sekelas membuyarkan ketakutanku. Mereka berlompatan dari kursinya dan memeluk diriku bahkan ada yang mencubitku.Wiwid yang palig trakhir memelukku.
"Wah Karina betah nih bertapa di rumah. Kita kan kangen sama cerewetnya Karina." Kata Wungundari, teman sebangku.
"Iya nih, selama Karina nggak masuk nilai ulanganku jelek. Habis aku nggak bisa nyontek Karina." Kata Zaldi, jagoan nyontek kelas 6-C
"Huuu….dasar tukang nyontek." Teriak teman-teman sekelas
Kelas kembali tenang setelah Wali kelas menyuruh kami semua duduk kembali. Bu Dita menyalami kemudian menyuruhku duduk di tempat dudukku yang dulu.
"Sepertinya kelas kita ini akan kembali ramai seperti dulu dengan datangnya kembali Karina. Ibu harap kamu bisa mengikuti pelajaran yang tertinggal. O iya, jam istirahat nanti ada lomba puisi antar kelas. Siapa jagoan puisi yang akan mewakili kita ?" Tanya Bu Dita kepada anak-anak sekelas.
"KARINAAAA…." Jerit anak-anak sekelas spontan.
"Ehem… Ibu rasa tidak sulit untukmu membuat satu puisi untuk dibacakan nanti. Baiklah, Karina akan mewakili kelas kita untuk membaca puisi nanti."
Kelas kemudian bergemuruh oleh teriakan teman-teman yang senang dengan keikutsertaanku dalam lomba puisi. Dengan cepat kuambil kertas kosong dan kubuat puisi kilat. Aku memang suka membuat puisi, aku teringat mimpiku semalam. Hanya dalam waktu setengah jam, aku berhasil menyelesaikan puisi itu.
Tanpa terasa kini sudah jam istirahat, semua anak kelas 5 dan 6 tumpah ruah di aula sekolah, disaksikan pula oleh Ibu Kepala Sekolah. Aku mendapat giliran keempat. Kutenangkan diri ini untuk kemudian menggerakkan tongkat ini menuju panggung. Rasa percaya diriku sudah kembali. Aku percaya teman-teman masih mau berteman denganku walau bagaimanapun kondisiku.
Sejenak suasana menjadi hening ketika aku menapaki panggung dengan tongkat. Kutolak bantuan pak Burhan, guru bahasa Indonesia, untuk menolongku ke panggung. Aku bisa sendiri ! Setelah aku di depan mikrofon suasana kembali meriah, terutama dukungan dari anak-anak kelasku. Mereka memberi semangat tidak kalah dengan suporter sepakbola.
Dengan penuh rasa percaya diri, kubacakan puisi yag baru kubuat tadi. Kuatur nafas yang berdetak naik turun. Aku mencoba mengikuti kata hatiku, seperti nasihat peri kecil.
"Bersandar pada warna pelangi
Menyapa dikantukku
Menyeka pipiku yang sembab
Oleh air mata
Dengan kepak sayapnya
Kau mengajakku terbang tinggi
Memahami kehidupan
Yang tak selamanya indah
Kini ku terjaga dari mimpiku
Menatap ke arah awan putih
Berjanji tak akan pernah putus asa
Dan selalu tersenyum
Kini ku bernyanyi
Dan akan tetap bernyanyi
Walau hanya dalam angan
Untuk peri kecilku"
Kutundukkan badan setelah membaca puisi itu diantara riuhnya tepukan tangan anak-anak dan guru. Dalam hati aku berjanji untuk selalu tersenyum dan mengikuti kata hatiku. Teman-teman tidak mempermasalahkan tongkat yang kupakai ataupun kakiku yang patah. Putus asa, malu atau minder sudah tidak ada lagi di benakku. Aku percaya mereka adalah teman-teman sejatiku.
"Terima kasih Peri Kecil !"
* * * * * * * * * * * *
Pengirim :
NUR CAHYO
Jl. Cempaka Sari 2A No. 33
Cempaka PutihUtara
Kel. Harapan Mulia
Jakarta Pusat 10640
Sabtu, 24 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar