Cerpen
Nasihat Peri
Oleh :
Nur Cahyo
Vonis dokter menyatakan kakiku patah dan aku harus dioperasi untuk menyambung kembali tulangku. Aku benci, aku benci ini semua ! Kenapa kecelakaan ini harus menimpa diriku ? Kenapa mobil itu harus menabrakku ketika aku menyeberang pulang sekolah ? Kupeluk Mama dengan menumpahkan air mataku seolah anak bayi yang minta susu.
"Mama, aku nggak mau dioperasi !"
"Karina, ini demi kebaikanmu juga. Kamu ingin main basket lagi nggak ?" tanya mama lembut seakan mengerti kecemasanku.
Mama membelaiku penuh kasih sayang, aku mendekapnya makin erat. Akhirnya berkat bujukan Mama dan Papa, aku mau juga dioperasi. Aku nggak mau selamanya patah kaki. Kata orang-orang bisa cacat seumur hidup. Hiii, membayangkan tidak bisa jalan seumur hidup, aku semakin merinding.
Akhirnya kujalani juga operasi penyambungan tulang itu, kugenggam tangan Mama erat sebelum aku tertidur karena pengaruh bius total. Operasi itu berjalan dengan sukses, kakiku kini terbalut gips yang cukup menyiksaku. Perih rasanya ! Aku ingin menangis karena sakit luka operasi yang tak dapat kutahan.
Dua minggu kemudian perban itu dilepas dan aku diperbolehkan berjalan menggunakan tongkat. Mama sudah memintakan aku ijin kepada guru disekolah dan aku diijinkan untuk mengikuti ulangan-ulangan susulan. Semenjak kakiku digips dan berada di rumah, sahabatku Wiwid rajin datang ke rumah dan membawakan catatan-catatan untuk kusalin kembali.
Semenjak aku berada di rumah membuatku merasa bosan, namun untuk keluar rumah aku juga tidak berani. Aku nggak mau orang lain terutama teman-temanku melihatku berjalan dengan menggunakn tongkat. Kerjaku seharian hanya mengurung diri di kamar dan sesekali surfing di internet dan membalas e-mail dari teman-teman chatting.
Sebulan telah berlalu, gips dikakiku telah dilepas oleh dokter namun aku tetap diharuskan menggunakan tongkat. Kakiku nampak masih bengkak yang harus kututup dengan kaus kaki. Sore itu Wiwid datang ke rumahku dengan membawakan aku catatan-catatan sekolah.
"Karina, wali kelas kita sering menanyakan keadaanmu. Katanya sebentar lagi ulangan-ulangan, kalau bisa kamu secepatnya masuk sekolah. Jangan sampai kamu nggak ikut Ebtanas SD."
Perkataan Wiwid membuatku pusing, aku masih belum siap dilihat teman-temanku dengan menggunakan tongkat dankaki bengkak seperti ini. Mereka akan memandangku sebelah mata dan mungkin anak-anak laki-laki di sekolah akan mengejekku. Mama, aku nggak mau diledek seperti itu.
"Aku masih belum siap masuk sekolah, Wid. Aku nggak mau diejek teman-teman karena keadaanku." Jawabku pendek.
"Itu sih terserah kamu, kalau menurutku sebaiknya Karina cepat masuk sekolah dan nggak usah malu dengan keadaanmu. Aku yakin teman-teman bisa menerima keadaanmu." Kata Wiwid seraya membelai punggungku.
'O iya besok ada perlombaan baca puisi antar kelas, kamu kan suka buat puisi. Teman-teman merasa kehilangan jagoan baca puisi kelas 6-C, sebenarnya mereka berharap kamu bisa ikut lomba baca puisi." Tambah Wiwid.
Aku nggak peduli, untuk masuk sekolah saja aku merasa malu apalagi baca puisi yang ditonton oleh anak-anak satu sekolah. Mama yang rupanya juga mendengarkan obrolan kami berdua, ikut menimpali.
"Karina sayang. Dokter bilang keadaan kakimu sudah mulai membaik dan ia juga mengizinkan kamu sekolah. Apalagi sekarang sedang musim ulangan." Nasihat Mama.
"Aku nggak mau ketemu teman-teman, aku nggak mau diledek gara-gara menggunakan tongkat."jawabku singkat seraya mengarahkan tongkatku menuju kamar.
"Pokoknya Karina nggak mau masuk sekolah." Tambahku, kali ini dengan suara lantang.
Aku lalu merebahkan diri dikasur seraya menangis membayangkan ejekan-ejekan teman-teman atau bahkan nanti guru-guru memintaku pindah ke sekolah anak-anak cacat. Kutumpahkan semua kesedihanku sendirian, tanpa terasa semilir angin yang masuk lewat jendela membuatku mengantuk.
Sinar terang itu menyilaukan mataku, kubuka mata dan memandang sekeliling. Ini bukan kamarku, mana Mama, mana Papa ? Aku merasa ketakutan. Disekelilingku semuanya hanya tampak awan putih dan cahaya yang terang, aku tertidur di atas awan. Mendadak badanku menggigil karena ketakutan. Mama, aku dimana ?
"Karina…." Sebuah suara memanggilku dengan lembut dari belakang.
Kucari asal suara itu namun tidak kutemukan siapa yang memanggilku, aku makin ketakutan.
"Aku disini Karina."
Kulihat sesosok peri kecil dengan sayap seperti kupu-kupu, badan bercahaya seolah kunag-kunang terbang dihadapanku, sejenak aku ketakutan dan tidak mempercayai semua ini. Mama tolong Karina !
"Setiap anak punya kata hati, Karina. Aku adalah kata hatimu, tugasku adalah membimbingmu untuk mengikuti kata hatimu, jangan bohongi dirimu Karina."jawab peri kecil itu sambil tersenyum, manis sekali.
"Pejamkan matamu." Suruh Peri kecil itu.
Aku merasakan peri kecil itu menyentuh diriku dan tampaknya ada perubahan pada badanku, kubuka mata ini setelah peri kecil menyuruhku.
Wow, kini aku memiliki sayap kupu-kupu pada punggungku dan kakiku tidak terlihat bengkak lagi. Kucoba kepak-kepakkan sayap itu, keluar cahaya terang seperti milik peri kecil.
"Sayap ini indah sekali !" Kataku. Peri kecil hanya tersenyum.
Peri kecil mengajakku terbang menembus awan yang putih bersih Kukepakkan sayap bercahaya ini, sesekali aku jatuh saat terbang, namun peri kecil membimbingku untuk terbang lagi. Aku hanya bisa memejamkan mata karena takut ketinggian, namun peri kecil menyuruhku untuk membuka mata lebar-lebar. Kemudian kami terbang merendah ke arah persimpangan lalu lintas yang berada di tengah kota kota.
Tampak dihadapanku seorang anak seusiaku dengan hanya bertumpu pada satu kaki. Anak itu melompat kesana kemari dengan susah payah demi menjajakan koran dagangannya. Anak itu tidak merasa malu dilihat teman-temannya, bahkan tak jarang pegendara motor memarahinya karena menghalangi jalan mereka. Namun anak itu tidak merasa marah atau malu, dengan tenang dia menjajakan koran kembali setelah lampu lalu lintas menyala merah.
Peri kecil hanya tersenyum kepadaku kemudian mengajakku terbang kembali ke angkasa raya, kali ini aku diajak menuju sebuah rumah kumuh yang penuh dengan lukisan-lukisan indah, salah satunya ada yang bergambar kupu-kupu kuning kesukaanku.
Astaga ! Ternyata lukisan-lukisan indah itu dilukis dengan menggunakan kaki oleh anak yang sebaya denganku. Dengan sabar dia celupkan kuas ke dalam cat minyak dengan menggunakan kakinya. Anak lelaki itu tidak memiliki dua tangan sama sekali tetapi dia tetap melukis dengan tersenyum. Tidak tampak kesedihan di mukanya, yang ada hanya seulas senyum dimukanya ketika ia berhasil menyelesaikan hasil karyanya.
Peri kecil kemudian melesat kembali dan aku mengejarnya. Kali ini sasaran kami kali ini adalah emper toko di malam hari yang digunakan untuk warung-warung lesehan seperti di Malioboro.
Tampak dihadapanku seorang anak perempuan berjalan menyeret tubuhnya dengan kedua tangan, karena kakinya buntung. Dia menggunakan sandal jepit bukan pada kakinya tapi pada tanggannya. Dengan ceria ia menmetik gitar kecil yang disandang dipunggung menyanyikan lagu-lagu di warung-warung dengan mengharapkan imbalan. Tak jarang pemilik warung dengan tega mengusirnya, anak itu tidak marah. Dengan terseok-seok dia menyeret tubuhnya menuju warung sebelah mengharapkan keberuntungan.
Peri kecil menggerakkan tongkatnya ke arah kami berdua dan sekejap mata kami telah berada kembali di awan putih semula. Dengan tersenyum dia memandang lembut ke arahku.
"Apa yang kamu rasakan dari perjalanan kita tadi ?"
"Aku merasa malu peri kecil. Mereka walaupun memiliki cacat yang lebih parah dariku namun tidak pernah merasa malu, bahkan mereka tetap semangat meski diusir atau dihina, meraka tidak merasa patah semangat dengan cacat mereka." Kataku seraya menitikkan air mata.
"Sedangkan aku….. aku hanya mengalami cacat sementara saja sudah merasa malu dan nggak mau sekolah. Aku malu pada mereka!"
"Karina, anak-anak yang kamu lihat tadi bukan mimpi, mereka nyata ada disekitarmu. Kenapa mereka tak pernah merasa malu atau minder dalam menghadapi hidup ? karena mereka punya semangat dan mendengarkan kata hati mereka. Walaupun cacat mereka nggak ingin menjadi beban orang lain. Bersyukurlah kamu masih memiliki Mama Papa yang selalu mendengarkan keluh kesahmu. Mungkin anak-anak tadi bahkan tak punya orang tua untuk bermanja-manja."
"Peri kecil….mulai sekarang Karina janji nggak akan menyusahkan Mama dan akan sekolah lagi." Kataku sambil tersenyum
"Ikuti kata hatimu." Kata peri kecil.
Peri kecil lagi-lagi tersenyum, kemudian menggerakkan tongkatnya kearahku. Cahaya putih ini menyilaukan mataku kembali. Badanku terasa ringan dan kepalaku pusing serasa berputar putar..
Hah ! Aku terbangun dari mimpiku dengan badan keringatan. Kulirik jam dinding di kamarku, jam setengah enam pagi. Tanpa berpikir panjang kugerakkan tongkatku menuju kamar mandi kemudian berganti dengan pakaian sekolah. Kulihat Mama tersenyum tanpa mengucap satu katapun ke arahku. Dengan sabar Mama membantu membereskan peralatan sekolahku. Mama mengantarku sampai mobil, kali ini aku diantar Papa.
Saat lampu lalu lintas menyala merah, Papa membuka jendela mobil untuk membeli koran pagi. Astaga ! Anak penjual koran itu seperti dalam mimpiku, peri kecil tidak bohong, mimpiku tadi malam adalah nyata.
"Sebentar, Pa!" Kataku kemudian mengambil bekal makan siang dan kuberkan pada anak itu. Papa tidak berkomentar hanya mengulas senyum diantara kumis tipisnya.
Jam tujuh lewat lima ! Kugerakkan tongkat menuu kelas 6-C. Hatiku berdebar-debar kencang khawatir apa yang kutakutkan terjadi, aku takut teman-teman memandangku aneh. Kuketuk pintu kelas dengan kepala menunduk, aku tak berani membayangkan yang akan terjadi.
"KARINAA…KITA KANGEN NIH !" Teriakan teman-teman sekelas membuyarkan ketakutanku. Mereka berlompatan dari kursinya dan memeluk diriku bahkan ada yang mencubitku.Wiwid yang palig trakhir memelukku.
"Wah Karina betah nih bertapa di rumah. Kita kan kangen sama cerewetnya Karina." Kata Wungundari, teman sebangku.
"Iya nih, selama Karina nggak masuk nilai ulanganku jelek. Habis aku nggak bisa nyontek Karina." Kata Zaldi, jagoan nyontek kelas 6-C
"Huuu….dasar tukang nyontek." Teriak teman-teman sekelas
Kelas kembali tenang setelah Wali kelas menyuruh kami semua duduk kembali. Bu Dita menyalami kemudian menyuruhku duduk di tempat dudukku yang dulu.
"Sepertinya kelas kita ini akan kembali ramai seperti dulu dengan datangnya kembali Karina. Ibu harap kamu bisa mengikuti pelajaran yang tertinggal. O iya, jam istirahat nanti ada lomba puisi antar kelas. Siapa jagoan puisi yang akan mewakili kita ?" Tanya Bu Dita kepada anak-anak sekelas.
"KARINAAAA…." Jerit anak-anak sekelas spontan.
"Ehem… Ibu rasa tidak sulit untukmu membuat satu puisi untuk dibacakan nanti. Baiklah, Karina akan mewakili kelas kita untuk membaca puisi nanti."
Kelas kemudian bergemuruh oleh teriakan teman-teman yang senang dengan keikutsertaanku dalam lomba puisi. Dengan cepat kuambil kertas kosong dan kubuat puisi kilat. Aku memang suka membuat puisi, aku teringat mimpiku semalam. Hanya dalam waktu setengah jam, aku berhasil menyelesaikan puisi itu.
Tanpa terasa kini sudah jam istirahat, semua anak kelas 5 dan 6 tumpah ruah di aula sekolah, disaksikan pula oleh Ibu Kepala Sekolah. Aku mendapat giliran keempat. Kutenangkan diri ini untuk kemudian menggerakkan tongkat ini menuju panggung. Rasa percaya diriku sudah kembali. Aku percaya teman-teman masih mau berteman denganku walau bagaimanapun kondisiku.
Sejenak suasana menjadi hening ketika aku menapaki panggung dengan tongkat. Kutolak bantuan pak Burhan, guru bahasa Indonesia, untuk menolongku ke panggung. Aku bisa sendiri ! Setelah aku di depan mikrofon suasana kembali meriah, terutama dukungan dari anak-anak kelasku. Mereka memberi semangat tidak kalah dengan suporter sepakbola.
Dengan penuh rasa percaya diri, kubacakan puisi yag baru kubuat tadi. Kuatur nafas yang berdetak naik turun. Aku mencoba mengikuti kata hatiku, seperti nasihat peri kecil.
"Bersandar pada warna pelangi
Menyapa dikantukku
Menyeka pipiku yang sembab
Oleh air mata
Dengan kepak sayapnya
Kau mengajakku terbang tinggi
Memahami kehidupan
Yang tak selamanya indah
Kini ku terjaga dari mimpiku
Menatap ke arah awan putih
Berjanji tak akan pernah putus asa
Dan selalu tersenyum
Kini ku bernyanyi
Dan akan tetap bernyanyi
Walau hanya dalam angan
Untuk peri kecilku"
Kutundukkan badan setelah membaca puisi itu diantara riuhnya tepukan tangan anak-anak dan guru. Dalam hati aku berjanji untuk selalu tersenyum dan mengikuti kata hatiku. Teman-teman tidak mempermasalahkan tongkat yang kupakai ataupun kakiku yang patah. Putus asa, malu atau minder sudah tidak ada lagi di benakku. Aku percaya mereka adalah teman-teman sejatiku.
"Terima kasih Peri Kecil !"
* * * * * * * * * * * *
Pengirim :
NUR CAHYO
Jl. Cempaka Sari 2A No. 33
Cempaka PutihUtara
Kel. Harapan Mulia
Jakarta Pusat 10640
Sabtu, 24 Januari 2009
Cerpen
Seperti Janjiku Pada Ima
Oleh :
Nur Cahyo
Selamat malam Ima, bulan malam ini terlihat kusam dari tempatku memandang. Mungkin dari tempatmu memandang bulan ini lebih bercahaya atau malah terlihat lebih kusam. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di benakku, aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk Ima, kekasihku yang nun jauh di Tarutung.
Bulan sudah melaksanakan tugasnya menyinari bumi sejak manusia ada, manusia menikmati cahaya bulan sepanjang hidupnya, bahkan menjadikannya saksi cinta saat mereka memadu kasih. Namun ketika bulan terlihat kusam seperti sekarang, tidak ada satu orang pun yang peduli pada bulan, orang-orang seolah melupakan jasa bulan pada manusia. Bahkan NASA tidak pernah menugaskan para astronotnya untuk menggosok bulan yang mulai terlihat kusam, mereka sudah cukup puas telah mendaratkan pesawat mereka di bulan.
Aku teringat saat duduk di beranda rumah Ima sambil memandang bulan, karena aku tidak punya uang untuk sekedar mengajaknya nonton film di bioskop murahan, Ima pernah berkata :
“Aku suka melihat bulan yang bersinar terang seperti malam ini. Aku harap bulan akan terus bersinar terang.”
“Aku juga suka, Ima. Aku janji akan tetap menjaga bulan supaya tetap bersinar terang, untukmu Ima.”
Romantisme dangdut ! Aku jadi malu kalau ingat percakapan kami dulu sebelum aku pergi merantau untuk kuliah, tapi aku masih teringat pada janjiku dulu dan tetap akan kupegang janjiku itu. Segera saja aku ambil kain pel dan cairan pembersih lantai serta tangga yang paling panjang, semuanya milik ibu kost, kemudian aku sandarkan tangga di bulan yang kusam itu. Tekadku hanya satu, aku ingin mempersembahkan bulan yang paling terang untuk Ima, semoga dia bisa melihatnya. Bukankah bulan bisa dilihat dimana saja walaupun aku dan Ima terpisah lautan.
Tangga itu kusandarkan di bulan dan aku telah siap untuk naik tangga dengan kain pel di tanganku. Beberapa orang yang melihat berteriak menyuruhku turun dan ada beberapa yang mengatakan aku gila, aku tidak peduli.
“Mau ngapain kamu ?” teriak orang-orang dari bawah.
“Aku ingin menggosok bulan yang kusam.”balasku lebih kencang.
“Bulan memang kusam karena dia sudah tua, percuma kamu menggosoknya !”
“Gila kau ya ?” orang disebelahnya menambahkan.
Aku sudah tidak memperdulikan perkataan orang-orang itu lagi, karena kini aku sudah hampir sampai di bulan. Beberapa astronot yang ada di stasiun angkasa MIR hanya memandangku sambil geleng-geleng kepala. Aku tersenyum pada mereka sebagai basa-basi, mereka membalas senyumanku dengan aneh seolah aku ini makhluk luar angkasa, aku tak peduli karena aku kini telah sampai di bulan.
Segera saja aku lumuri seluruh permukaan bulan dengan cairan pembersih lantai tersebut. Setelah itu aku gosok permukaan bulan dengan kain pel yang aku bawa dari rumah. Pekerjaan itu rupanya cukup menguras tenagaku. Setelah satu hari satu malam berlalu pekerjaanku baru selesai. Cairan pembersih itu habis tak bersisa, bahkan kain pel itu sudah menjadi serabut-serabut yang sudah tidak dapat digunakan lagi. Entah apa yang akan kukatakan nanti kepada ibu kost tentang kain pel dan cairan pembersih lantai miliknya. Kalau aku punya uang aku akan menggantinya, sepertinya barang semacam itu banyak terdapat di pasar belakang rumah kostku.
Aku puas dengan hasil pekerjaanku ! Bulan kini tampak terlihat lebih bercahaya dibandingkan sebelumnya, secara iseng kugoreskan nama Ima dengan ujung jari telunjukku di permukaan bulan. Ups ! Tanpa sengaja aku menjatuhkan bendera Amerika yang ditancapkan di bulan, aku benahi kembali bendera tersebut, aku tak ingin bantuan Amerika pada negeriku dihentikan hanya gara-gara aku menjatuhkan bendera mereka di bulan.
Semua daerah di bumi dapat terlihat dari sini walaupun samar-samar, aku bisa melihat negeriku begitu kecil dibandingkan negara lain. Dari sini aku bisa mendengar ocehan-ocehan orang di bumi yang terbawa angin. Mereka merasa bahwa aku telah membuat perubahan besar dengan menggosok bulan.
“Ternyata anak muda tadi tidak gila. Gara-gara dia bulan menjadi lebih terang.”
“Kalau tahu akan sukses seperti ini, mungkin aku akan ikut dengannya ke bulan.”
“Bulan yang terang ini telah membangkitkan gairah hidup kita.”
“Siapa anak muda tadi?”
Aku hanya tersenyum sinis mendengar gumaman-gumaman yang terbawa angin itu. Dasar manusia ! Kalau diajak susah nggak ada yang mau, kalau sudah sukses baru mereka menyesali atau malah cari kesempatan untuk ikut menikmati kesuksesan itu.
Bumi terlihat jelas dari sini, kuarahkan mataku sejauh mata ini mampu, Ima apakah kau melihat apa yang aku perbuat sekarang ? Aku telah menepati janjiku, membuat bulan bersinar terang, hanya untukmu. Mungkin Ima sudah lupa dengan janji yang dibuat dulu, ketika kami menjadikan bulan sebagai saksi cinta kami.
Aku pun terhenyak dari lamunanku, besok aku harus kuliah dan tangga ini harus kukembalikan pada ibu kost. Dengan langkah gontai kuturuni tangga itu perlahan-lahan, tentu saja aku tidak lupa memberi salam pada astoronot yang ada di stasiun luar angkasa MIR sekedar salam perpisahan. Kali ini mereka tidak lagi membalas dengan senyuman aneh, mereka memberiku selamat dalam bahasa yang tidak kumengerti.
Kini aku yang membalas dengan senyuman aneh dan dipaksakan karena aku memang tidak mengerti apa yang mereka katakan. Aku melanjutkan menuruni tangga, sebentar lagi aku sampai di rumah lalu tidur sepuasnya, capek sekali aku setelah menggosok bulan tapi aku puas telah menepati janjiku.
Tiba-tiba kudengar suara berisik yang sangat mengganggu pendengaranku, kulongokkan kepala ke bawah, ternyata ratusan orang telah berbaris rapi menyambut kedatanganku, bahkan aku melihat ada beberapa anggota militer yang turut menyambutku. Aku semakin pusing dan tidak mengerti !
Setelah kakiku menginjakkan tanah segera saja orang-orang tadi mengerumuniku, tetapi beberapa orang berbadan tegap memakai seragam militer langsung mengusir mereka. Aku jadi gerah atas perlakuan ini, dari dulu aku memang kurang suka dikerumuni banyak orang apalagi milter. Dari kerumunan itu tiba-tiba muncul wajah yang sangat kukenal, karena aku sering melihatnya di televisi. Dia adalah Panglima besar militer negeri ini, dengan senyum khasnya dia memberiku selamat.
“Selamat anak muda, anda telah menyelamatkan dunia. Berkat anda kehidupan di bumi lebih bergairah. Tidak pernah terlintas di pikiran kami untuk menggosok bulan, sungguh suatu ide yang brilian. Kamu harus ikut kami, bapak presiden ingin bertemu denganmu.”ungkap jenderal itu seolah-olah aku ini pahlawan, tapi aku malah jijik mendengarnya.
“Hampir lupa, siapa namamu tadi, nak ?”tanya Jenderal itu.
“Togar.”
“Nama yang bagus. Kapten ! Tolong antar tuan Togar ke mobil.”
Aku lebih jijik mendengar orang itu memanggilku dengan kata tuan, ingin muntah rasanya aku mendapat perlakuan seperti ini, aku hanya ingin tidur, aku lelah sekali.
Beberapa anak buahnya langsung menggiringku untuk naik ke dalam mobil limousin mulus milik jenderal itu, tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab dan membereskan tangga atau sekedar mengganti pakaianku yang bau keringat. Mobil itu pun berangkat dengan diiringi kawalan pasukan bermotor dengan sirene yang memekakkan telingaku.
Sepanjang jalan yang kulewati terdapat kerumunan orang-orang yang berusaha melongok kedalam mobil seraya berteriak memanggil namaku seolah mereka telah mengenalku lama. Barisan anak sekolah, remaja sampai kakek-kakek kulihat berdiri di di pinggir jalan seraya meneriakkan namaku atau sekedar membentangkan spanduk bertuliskan namaku.
Astaga ! Aku lupa membenahi tangga yang kusandarkan di bulan tadi. Itu kan tangga milik ibu kost. Bagaimana nanti kalau dia mencari tangganya untuk membetulkan antena televisi atau membetulkan genteng yang bocor. Bagaimana juga kalau nanti ada satelit luar angkasa yang menabrak tangga yang kusandarkan itu, tentu saja tangga itu akan rusak berantakan ! Kalau mengganti kain pel atau cairan pembersih lantai sih aku masih sanggup. Kalau harus mengganti tangga, itu kan mahal sekali. Bisa nggak makan sebulan untuk mengganti tangga itu.
Sepanjang perjalanan aku lelah sekali mencoba menahan kantuk sambil malambaikan tangan kepada masyarakat dengan senyum yang dipaksakan. Dari jendela mobil aku melihat bulan lebih bercahaya dan terang, silau aku melihatnya. Beberapa orang mencoba mengikuti langkahku dengan mencoba membersihkan bulan, orang-orang tersebut menyandarkan tangga di bulan namun gagal. Tempatku menaruh tangga rupanya telah dijaga oleh satu batalyon tentara dengan menjadikan tempat tersebut sebagai tempat bersejarah dan akan dibangun monumen. Dengan kasar tentara-tentara itu menendang tangga yang telah ditaruh oleh orang-orang yang mengikuti jejakku, orang-orang itu mengganggap aku mencari sensasi dan mereka mencoba mengikuti jejakku.
Limusin pun memasuki halaman kantor kepresidenan, karpet merah telah terbentang begitu pengawal membukakan pintu untukku. Presiden negeri ini telah berdiri menyambutku dengan senyumnya yang tipis menunjukkan kewibawaannya, tapi bagiku lebih mirip tukang sate di belakang rumahku yang sering memandangku tajam sambil tersenyum sinis apabila aku pura-pura lupa membawa uang untuk membayar.
“Dengan ini, saya selaku presiden daripada negeri ini menganugerahken bintang jasa kepada anda, karena jasa anda membuat bulan lebih mengkilat dan negeri ini dianggap sebagai pembangkit semangat dunia, sehingga kepercayaan daripada investor asing pulih kembali. Selain itu bla.....bla....bla..... bla....bla”
Ya Tuhan lelucon apalagi ini ? mataku sudah terasa berat sekali. Aku mendengarkan pidato presiden dengan mata lima watt dan senyum yang dipaksakan. Dalam hitungan detik puluhan lampu sorot dan kamera langsung membutakan mataku, wartawan-wartawan itu mengerumuni aku seolah aku ini bintang film panas yang terkenal. Kemudian ajudan-ajudan presiden segera mengamankan aku dari serbuan wartawan dan membawaku ke ruang konferensi pers, seakan aku badak bercula enam yang harus dilindungi. Militer itu tak segan-segan memukul wartawan yang mencoba mendekatiku.
“Tuan Togar, apa yang menjadi motivasi anda sehingga anda tergerak untuk menggosok bulan dan melakukan perubahan di muka bumi ?” tanya seorang wartawan dari stasiun televisi terkenal.
Mungkin ini kesempatanku untuk mengungkapkan isi hatiku di depan kamera, siapa tahu Ima melihatnya sehingga dia tahu aku menepati janjiku dan aku tidak akan pernah melupakannya walau di perantauan sekalipun.
“Saya melakukan semua ini bukan demi tujuan politik, sensasi ataupun uang. Saya melakukan ini semua demi........cinta !”
Semua wartawan dan pejabat negeri ini terhenyak menahan nafas sesaat, di kerongkongan mereka seperti ada potongan jambu monyet yang tak bisa tertelan.
“Saya melakukan ini untuk menepati janji saya kepada Ima, kekasih saya yang nun jauh di Tarutung sana. Saya berjanji untuk membuat bulan terus bersinar terang untuknya.” kataku lalu menghapus air mataku sejenak.
“Bulan sudah menjadi saksi cinta kami, sudah sepantasnya saya menggosok bulan untuk menjaga saksi cinta kami berdua supaya tetap bersinar terang. Ima........ kalau kamu melihatku saat ini, percayalah, abang masih rindu kamu dan abang pasti akan pulang ke Tarutung !”
Setelah menyelesaikan pernyataanku, sekarang justru aku yang terhenyak. Anggota militer yang berbadan tegap, wartawan yang berpenampilan lusuh dan pejabat yang berwibawa semuanya tertunduk dan berusaha menyembunyikan tangisan mereka. Bahkan ada beberapa dari mereka yang terang-terangan menangis di pundak rekan di sebelahnya. Presiden pun ikut menangis di pundak wakil presiden.
“Anda memang benar-benar seorang kekasih sejati, perbuatan anda ini lebih dashyat dibandingkan apa yang dilakukan Romeo pada Yuliet. Anda akan membuat Shakespeare gigit jari di liang kubur.” Puji seorang sastrawan yang kebetulan hadir.
“Perbuatan Valentine juga kalah dengan perbuatan anda, saya mengusulkan bagaimana kalau kita menghapus valentine’s day menjadi....siapa namamu tadi ?” usul menteri urusan cinta.
“Togar.” Jawabku dengan malas.
“Saya selaku menteri urusan cinta menetapkan hari ini menjadi Togar’s day, bukti kekuatan cinta seorang pria terhadap kekasihnya yang tidak akan kunjung padam.”
“SETUJUUUUU...!!” teriak orang-orang yang hadir saat itu.
Esoknya mulai bermunculan duplikat-duplikat diriku di jalanan, seperti ketika orang-orang mengidolakan Elvis Presley dan menirukan gayanya. Mereka menirukan gayaku yang cuma memakai celana jeans yang sudah robek selutut dan kaos dari kain terigu bekas, kemudian pergi ke tempat aku menaruh tangga, yang telah dijadikan monumen dan menyatakan cinta pada kekasihnya. Souvenir-souvenir berbentuk bulan bersinar terang dengan lampu di dalamnya mejadi souvenir yang paling laris saat Togar’s day.
Dari hari kehari kegiatanku makin padat saja, diundang ke sana kemari, menjadi bintang tamu suatu acara, memberi pengarahan tentang cara menggosok bulan, memenuhi undangan NASA atas keberhasilanku menggosok bulan, sampai menjadi bintang sinetron yang cukup laris, sinetron tentang cinta tentunya.
Walau kini aku telah tenar, kaya dan berhasil namun aku masih memikirkan Ima yang nun jauh di Tarutung. Sudah beratus-ratus orang tua menawarkan anak gadisnya kepadaku, serta sudah tidak terhitung selebriti yang ingin menjadi istriku. Mentalku agak goyah juga saat Pamela Anderson menawarkan dirinya menjadi istriku, namun ketika aku ingat biaya untuk memelihara kemolekan tubuhnya, akhirnya kutolak dengan halus. Sesekali terlintas dibenakku untuk pulang ke Tarutung namun berbagai tugas kenegaraan tidak memungkinkan aku untuk pulang ke Tarutung dan berjumpa dengan kekasihku.
Malam ini aku baru saja pulang dari syuting iklan obat terlambat bulan khusus wanita. Mataku sudah ngantuk dan aku ingin cepat-cepat tidur, tiba-tiba di depan pintu kulihat Ima berdiri dengan masih menenteng tas pakaian yang besar.
Kugosok mataku berkali-kali, apakah aku mimpi ? Ima ternyata tidak berubah, masih sederhana dengan rambut panjangnya yang dikepang dan senyumnya yang selalu membuat aku merinding, seperti sebelum aku merantau.
“Bang Togar....”kata Ima tertahan.
“Ima..........!”balasku.
Adegan selanjutnya mengadaptasi adegan film India kesukaan Raam Punjambi, aku berlari sambil menyanyi lagu Ini rindu-nya Farid Harja, aku bersyukur di sebelahku tak ada tiang untuk kupeluk sehingga aku tidak terlalu mencontek adegan film India. Kupeluk tubuh Ima untuk melampiaskan kerinduanku dan tak ingin kulepas, tak perduli pada Ima yang kehabisan nafas.
“Abang kangen sekali Ima.”
“Ima juga Bang. Abang jahat ! Mentang-mentang sudah terkenal, lupa sama Ima di Tarutung. Mamak sama namboru di Tarutung juga sering nanyain abang !” balas Ima dalam pelukanku.
Aku memejamkan mataku seraya memberi isyarat supaya dia menciumku, sudah lama sekali aku merindukan saat-saat romantis seperti ini. Kurasakan Ima makin mendekatkan bibirnya ke bibirku, dadaku berdegup kencang saat bibir Ima makin mendekat, kemudian...................
BLETAKKK !!!!
Ternyata sebuah sandal jepit bau menampar pipi kiriku yang meninggalkan bekas berwarna merah seperti tomat segar.
“Togaaaaar ! Sudah sinting kau ya. Malam-malam tidur di atas genteng sambil cengar-cengir kayak kambing mau dikawinin. Mendingan kau selesain skripsi kau yang berantakan.” Teriak Ucok teman sekamarku dari bawah.
“Kau yang sinting ! Buyar sudah lamunanku bersama Ima. Ucok gila !” Balasku seraya melempar kembali sandal jepit ke mukanya. Sial nggak kena !
Hancur sudah semua lamunanku yang indah bersama kekasihku Ima. Kurapatkan sarungku ke dada, malam ini terasa dingin sekali di atas genteng. Aku suka duduk sambil melamun disini sambil memandang bulan, walaupun teman-teman kost banyak yang menganggapku orang stress, aku tak perduli. Bintang-bintang malam ini sangat sayang kalau dilewatkan dengan menonton televisi.
Bulan tetap kusam dalam pandanganku saat ini, aku tak tahu apakah saat ini Ima di Tarutung sana juga suka memandangi bulan yang menjadi saksi cinta kami ataukah dia sudah tidak perduli lagi padaku. Tiba-tiba kulihat bulan bersinar terang sekali dan berubah menjadi wajah Ima yang tersenyum, kupanggil namanya keras-keras.
“Ima, abang rinduuuuuuuuu !”
Ucok, ibu kost dan teman-temanku melihat perbuatanku dari bawah, mereka cuma geleng-geleng kepala sambil menaruh telunjuk mereka di dahi, setelah itu masuk lagi ke kamar. Aku tetap tak perduli.
Perlahan wajah Ima menghilang dan berubah menjadi sinar bulan yang terus meredup dan meredup sampai akhirnya kembali kusam. Suatu saat nanti Abang pasti akan kembali ke Tarutung dan melamarmu, Ima. Abang akan mempersembahkan bulan yang paling terang. Seperti janjiku pada Ima !
***************
Pengirim :
NUR CAHYO
Jl. Titimplik No. 17
Bandung 40133
(Maafkan saya kalau ceritanya terlalu dangdut !)
Seperti Janjiku Pada Ima
Oleh :
Nur Cahyo
Selamat malam Ima, bulan malam ini terlihat kusam dari tempatku memandang. Mungkin dari tempatmu memandang bulan ini lebih bercahaya atau malah terlihat lebih kusam. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di benakku, aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk Ima, kekasihku yang nun jauh di Tarutung.
Bulan sudah melaksanakan tugasnya menyinari bumi sejak manusia ada, manusia menikmati cahaya bulan sepanjang hidupnya, bahkan menjadikannya saksi cinta saat mereka memadu kasih. Namun ketika bulan terlihat kusam seperti sekarang, tidak ada satu orang pun yang peduli pada bulan, orang-orang seolah melupakan jasa bulan pada manusia. Bahkan NASA tidak pernah menugaskan para astronotnya untuk menggosok bulan yang mulai terlihat kusam, mereka sudah cukup puas telah mendaratkan pesawat mereka di bulan.
Aku teringat saat duduk di beranda rumah Ima sambil memandang bulan, karena aku tidak punya uang untuk sekedar mengajaknya nonton film di bioskop murahan, Ima pernah berkata :
“Aku suka melihat bulan yang bersinar terang seperti malam ini. Aku harap bulan akan terus bersinar terang.”
“Aku juga suka, Ima. Aku janji akan tetap menjaga bulan supaya tetap bersinar terang, untukmu Ima.”
Romantisme dangdut ! Aku jadi malu kalau ingat percakapan kami dulu sebelum aku pergi merantau untuk kuliah, tapi aku masih teringat pada janjiku dulu dan tetap akan kupegang janjiku itu. Segera saja aku ambil kain pel dan cairan pembersih lantai serta tangga yang paling panjang, semuanya milik ibu kost, kemudian aku sandarkan tangga di bulan yang kusam itu. Tekadku hanya satu, aku ingin mempersembahkan bulan yang paling terang untuk Ima, semoga dia bisa melihatnya. Bukankah bulan bisa dilihat dimana saja walaupun aku dan Ima terpisah lautan.
Tangga itu kusandarkan di bulan dan aku telah siap untuk naik tangga dengan kain pel di tanganku. Beberapa orang yang melihat berteriak menyuruhku turun dan ada beberapa yang mengatakan aku gila, aku tidak peduli.
“Mau ngapain kamu ?” teriak orang-orang dari bawah.
“Aku ingin menggosok bulan yang kusam.”balasku lebih kencang.
“Bulan memang kusam karena dia sudah tua, percuma kamu menggosoknya !”
“Gila kau ya ?” orang disebelahnya menambahkan.
Aku sudah tidak memperdulikan perkataan orang-orang itu lagi, karena kini aku sudah hampir sampai di bulan. Beberapa astronot yang ada di stasiun angkasa MIR hanya memandangku sambil geleng-geleng kepala. Aku tersenyum pada mereka sebagai basa-basi, mereka membalas senyumanku dengan aneh seolah aku ini makhluk luar angkasa, aku tak peduli karena aku kini telah sampai di bulan.
Segera saja aku lumuri seluruh permukaan bulan dengan cairan pembersih lantai tersebut. Setelah itu aku gosok permukaan bulan dengan kain pel yang aku bawa dari rumah. Pekerjaan itu rupanya cukup menguras tenagaku. Setelah satu hari satu malam berlalu pekerjaanku baru selesai. Cairan pembersih itu habis tak bersisa, bahkan kain pel itu sudah menjadi serabut-serabut yang sudah tidak dapat digunakan lagi. Entah apa yang akan kukatakan nanti kepada ibu kost tentang kain pel dan cairan pembersih lantai miliknya. Kalau aku punya uang aku akan menggantinya, sepertinya barang semacam itu banyak terdapat di pasar belakang rumah kostku.
Aku puas dengan hasil pekerjaanku ! Bulan kini tampak terlihat lebih bercahaya dibandingkan sebelumnya, secara iseng kugoreskan nama Ima dengan ujung jari telunjukku di permukaan bulan. Ups ! Tanpa sengaja aku menjatuhkan bendera Amerika yang ditancapkan di bulan, aku benahi kembali bendera tersebut, aku tak ingin bantuan Amerika pada negeriku dihentikan hanya gara-gara aku menjatuhkan bendera mereka di bulan.
Semua daerah di bumi dapat terlihat dari sini walaupun samar-samar, aku bisa melihat negeriku begitu kecil dibandingkan negara lain. Dari sini aku bisa mendengar ocehan-ocehan orang di bumi yang terbawa angin. Mereka merasa bahwa aku telah membuat perubahan besar dengan menggosok bulan.
“Ternyata anak muda tadi tidak gila. Gara-gara dia bulan menjadi lebih terang.”
“Kalau tahu akan sukses seperti ini, mungkin aku akan ikut dengannya ke bulan.”
“Bulan yang terang ini telah membangkitkan gairah hidup kita.”
“Siapa anak muda tadi?”
Aku hanya tersenyum sinis mendengar gumaman-gumaman yang terbawa angin itu. Dasar manusia ! Kalau diajak susah nggak ada yang mau, kalau sudah sukses baru mereka menyesali atau malah cari kesempatan untuk ikut menikmati kesuksesan itu.
Bumi terlihat jelas dari sini, kuarahkan mataku sejauh mata ini mampu, Ima apakah kau melihat apa yang aku perbuat sekarang ? Aku telah menepati janjiku, membuat bulan bersinar terang, hanya untukmu. Mungkin Ima sudah lupa dengan janji yang dibuat dulu, ketika kami menjadikan bulan sebagai saksi cinta kami.
Aku pun terhenyak dari lamunanku, besok aku harus kuliah dan tangga ini harus kukembalikan pada ibu kost. Dengan langkah gontai kuturuni tangga itu perlahan-lahan, tentu saja aku tidak lupa memberi salam pada astoronot yang ada di stasiun luar angkasa MIR sekedar salam perpisahan. Kali ini mereka tidak lagi membalas dengan senyuman aneh, mereka memberiku selamat dalam bahasa yang tidak kumengerti.
Kini aku yang membalas dengan senyuman aneh dan dipaksakan karena aku memang tidak mengerti apa yang mereka katakan. Aku melanjutkan menuruni tangga, sebentar lagi aku sampai di rumah lalu tidur sepuasnya, capek sekali aku setelah menggosok bulan tapi aku puas telah menepati janjiku.
Tiba-tiba kudengar suara berisik yang sangat mengganggu pendengaranku, kulongokkan kepala ke bawah, ternyata ratusan orang telah berbaris rapi menyambut kedatanganku, bahkan aku melihat ada beberapa anggota militer yang turut menyambutku. Aku semakin pusing dan tidak mengerti !
Setelah kakiku menginjakkan tanah segera saja orang-orang tadi mengerumuniku, tetapi beberapa orang berbadan tegap memakai seragam militer langsung mengusir mereka. Aku jadi gerah atas perlakuan ini, dari dulu aku memang kurang suka dikerumuni banyak orang apalagi milter. Dari kerumunan itu tiba-tiba muncul wajah yang sangat kukenal, karena aku sering melihatnya di televisi. Dia adalah Panglima besar militer negeri ini, dengan senyum khasnya dia memberiku selamat.
“Selamat anak muda, anda telah menyelamatkan dunia. Berkat anda kehidupan di bumi lebih bergairah. Tidak pernah terlintas di pikiran kami untuk menggosok bulan, sungguh suatu ide yang brilian. Kamu harus ikut kami, bapak presiden ingin bertemu denganmu.”ungkap jenderal itu seolah-olah aku ini pahlawan, tapi aku malah jijik mendengarnya.
“Hampir lupa, siapa namamu tadi, nak ?”tanya Jenderal itu.
“Togar.”
“Nama yang bagus. Kapten ! Tolong antar tuan Togar ke mobil.”
Aku lebih jijik mendengar orang itu memanggilku dengan kata tuan, ingin muntah rasanya aku mendapat perlakuan seperti ini, aku hanya ingin tidur, aku lelah sekali.
Beberapa anak buahnya langsung menggiringku untuk naik ke dalam mobil limousin mulus milik jenderal itu, tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab dan membereskan tangga atau sekedar mengganti pakaianku yang bau keringat. Mobil itu pun berangkat dengan diiringi kawalan pasukan bermotor dengan sirene yang memekakkan telingaku.
Sepanjang jalan yang kulewati terdapat kerumunan orang-orang yang berusaha melongok kedalam mobil seraya berteriak memanggil namaku seolah mereka telah mengenalku lama. Barisan anak sekolah, remaja sampai kakek-kakek kulihat berdiri di di pinggir jalan seraya meneriakkan namaku atau sekedar membentangkan spanduk bertuliskan namaku.
Astaga ! Aku lupa membenahi tangga yang kusandarkan di bulan tadi. Itu kan tangga milik ibu kost. Bagaimana nanti kalau dia mencari tangganya untuk membetulkan antena televisi atau membetulkan genteng yang bocor. Bagaimana juga kalau nanti ada satelit luar angkasa yang menabrak tangga yang kusandarkan itu, tentu saja tangga itu akan rusak berantakan ! Kalau mengganti kain pel atau cairan pembersih lantai sih aku masih sanggup. Kalau harus mengganti tangga, itu kan mahal sekali. Bisa nggak makan sebulan untuk mengganti tangga itu.
Sepanjang perjalanan aku lelah sekali mencoba menahan kantuk sambil malambaikan tangan kepada masyarakat dengan senyum yang dipaksakan. Dari jendela mobil aku melihat bulan lebih bercahaya dan terang, silau aku melihatnya. Beberapa orang mencoba mengikuti langkahku dengan mencoba membersihkan bulan, orang-orang tersebut menyandarkan tangga di bulan namun gagal. Tempatku menaruh tangga rupanya telah dijaga oleh satu batalyon tentara dengan menjadikan tempat tersebut sebagai tempat bersejarah dan akan dibangun monumen. Dengan kasar tentara-tentara itu menendang tangga yang telah ditaruh oleh orang-orang yang mengikuti jejakku, orang-orang itu mengganggap aku mencari sensasi dan mereka mencoba mengikuti jejakku.
Limusin pun memasuki halaman kantor kepresidenan, karpet merah telah terbentang begitu pengawal membukakan pintu untukku. Presiden negeri ini telah berdiri menyambutku dengan senyumnya yang tipis menunjukkan kewibawaannya, tapi bagiku lebih mirip tukang sate di belakang rumahku yang sering memandangku tajam sambil tersenyum sinis apabila aku pura-pura lupa membawa uang untuk membayar.
“Dengan ini, saya selaku presiden daripada negeri ini menganugerahken bintang jasa kepada anda, karena jasa anda membuat bulan lebih mengkilat dan negeri ini dianggap sebagai pembangkit semangat dunia, sehingga kepercayaan daripada investor asing pulih kembali. Selain itu bla.....bla....bla..... bla....bla”
Ya Tuhan lelucon apalagi ini ? mataku sudah terasa berat sekali. Aku mendengarkan pidato presiden dengan mata lima watt dan senyum yang dipaksakan. Dalam hitungan detik puluhan lampu sorot dan kamera langsung membutakan mataku, wartawan-wartawan itu mengerumuni aku seolah aku ini bintang film panas yang terkenal. Kemudian ajudan-ajudan presiden segera mengamankan aku dari serbuan wartawan dan membawaku ke ruang konferensi pers, seakan aku badak bercula enam yang harus dilindungi. Militer itu tak segan-segan memukul wartawan yang mencoba mendekatiku.
“Tuan Togar, apa yang menjadi motivasi anda sehingga anda tergerak untuk menggosok bulan dan melakukan perubahan di muka bumi ?” tanya seorang wartawan dari stasiun televisi terkenal.
Mungkin ini kesempatanku untuk mengungkapkan isi hatiku di depan kamera, siapa tahu Ima melihatnya sehingga dia tahu aku menepati janjiku dan aku tidak akan pernah melupakannya walau di perantauan sekalipun.
“Saya melakukan semua ini bukan demi tujuan politik, sensasi ataupun uang. Saya melakukan ini semua demi........cinta !”
Semua wartawan dan pejabat negeri ini terhenyak menahan nafas sesaat, di kerongkongan mereka seperti ada potongan jambu monyet yang tak bisa tertelan.
“Saya melakukan ini untuk menepati janji saya kepada Ima, kekasih saya yang nun jauh di Tarutung sana. Saya berjanji untuk membuat bulan terus bersinar terang untuknya.” kataku lalu menghapus air mataku sejenak.
“Bulan sudah menjadi saksi cinta kami, sudah sepantasnya saya menggosok bulan untuk menjaga saksi cinta kami berdua supaya tetap bersinar terang. Ima........ kalau kamu melihatku saat ini, percayalah, abang masih rindu kamu dan abang pasti akan pulang ke Tarutung !”
Setelah menyelesaikan pernyataanku, sekarang justru aku yang terhenyak. Anggota militer yang berbadan tegap, wartawan yang berpenampilan lusuh dan pejabat yang berwibawa semuanya tertunduk dan berusaha menyembunyikan tangisan mereka. Bahkan ada beberapa dari mereka yang terang-terangan menangis di pundak rekan di sebelahnya. Presiden pun ikut menangis di pundak wakil presiden.
“Anda memang benar-benar seorang kekasih sejati, perbuatan anda ini lebih dashyat dibandingkan apa yang dilakukan Romeo pada Yuliet. Anda akan membuat Shakespeare gigit jari di liang kubur.” Puji seorang sastrawan yang kebetulan hadir.
“Perbuatan Valentine juga kalah dengan perbuatan anda, saya mengusulkan bagaimana kalau kita menghapus valentine’s day menjadi....siapa namamu tadi ?” usul menteri urusan cinta.
“Togar.” Jawabku dengan malas.
“Saya selaku menteri urusan cinta menetapkan hari ini menjadi Togar’s day, bukti kekuatan cinta seorang pria terhadap kekasihnya yang tidak akan kunjung padam.”
“SETUJUUUUU...!!” teriak orang-orang yang hadir saat itu.
Esoknya mulai bermunculan duplikat-duplikat diriku di jalanan, seperti ketika orang-orang mengidolakan Elvis Presley dan menirukan gayanya. Mereka menirukan gayaku yang cuma memakai celana jeans yang sudah robek selutut dan kaos dari kain terigu bekas, kemudian pergi ke tempat aku menaruh tangga, yang telah dijadikan monumen dan menyatakan cinta pada kekasihnya. Souvenir-souvenir berbentuk bulan bersinar terang dengan lampu di dalamnya mejadi souvenir yang paling laris saat Togar’s day.
Dari hari kehari kegiatanku makin padat saja, diundang ke sana kemari, menjadi bintang tamu suatu acara, memberi pengarahan tentang cara menggosok bulan, memenuhi undangan NASA atas keberhasilanku menggosok bulan, sampai menjadi bintang sinetron yang cukup laris, sinetron tentang cinta tentunya.
Walau kini aku telah tenar, kaya dan berhasil namun aku masih memikirkan Ima yang nun jauh di Tarutung. Sudah beratus-ratus orang tua menawarkan anak gadisnya kepadaku, serta sudah tidak terhitung selebriti yang ingin menjadi istriku. Mentalku agak goyah juga saat Pamela Anderson menawarkan dirinya menjadi istriku, namun ketika aku ingat biaya untuk memelihara kemolekan tubuhnya, akhirnya kutolak dengan halus. Sesekali terlintas dibenakku untuk pulang ke Tarutung namun berbagai tugas kenegaraan tidak memungkinkan aku untuk pulang ke Tarutung dan berjumpa dengan kekasihku.
Malam ini aku baru saja pulang dari syuting iklan obat terlambat bulan khusus wanita. Mataku sudah ngantuk dan aku ingin cepat-cepat tidur, tiba-tiba di depan pintu kulihat Ima berdiri dengan masih menenteng tas pakaian yang besar.
Kugosok mataku berkali-kali, apakah aku mimpi ? Ima ternyata tidak berubah, masih sederhana dengan rambut panjangnya yang dikepang dan senyumnya yang selalu membuat aku merinding, seperti sebelum aku merantau.
“Bang Togar....”kata Ima tertahan.
“Ima..........!”balasku.
Adegan selanjutnya mengadaptasi adegan film India kesukaan Raam Punjambi, aku berlari sambil menyanyi lagu Ini rindu-nya Farid Harja, aku bersyukur di sebelahku tak ada tiang untuk kupeluk sehingga aku tidak terlalu mencontek adegan film India. Kupeluk tubuh Ima untuk melampiaskan kerinduanku dan tak ingin kulepas, tak perduli pada Ima yang kehabisan nafas.
“Abang kangen sekali Ima.”
“Ima juga Bang. Abang jahat ! Mentang-mentang sudah terkenal, lupa sama Ima di Tarutung. Mamak sama namboru di Tarutung juga sering nanyain abang !” balas Ima dalam pelukanku.
Aku memejamkan mataku seraya memberi isyarat supaya dia menciumku, sudah lama sekali aku merindukan saat-saat romantis seperti ini. Kurasakan Ima makin mendekatkan bibirnya ke bibirku, dadaku berdegup kencang saat bibir Ima makin mendekat, kemudian...................
BLETAKKK !!!!
Ternyata sebuah sandal jepit bau menampar pipi kiriku yang meninggalkan bekas berwarna merah seperti tomat segar.
“Togaaaaar ! Sudah sinting kau ya. Malam-malam tidur di atas genteng sambil cengar-cengir kayak kambing mau dikawinin. Mendingan kau selesain skripsi kau yang berantakan.” Teriak Ucok teman sekamarku dari bawah.
“Kau yang sinting ! Buyar sudah lamunanku bersama Ima. Ucok gila !” Balasku seraya melempar kembali sandal jepit ke mukanya. Sial nggak kena !
Hancur sudah semua lamunanku yang indah bersama kekasihku Ima. Kurapatkan sarungku ke dada, malam ini terasa dingin sekali di atas genteng. Aku suka duduk sambil melamun disini sambil memandang bulan, walaupun teman-teman kost banyak yang menganggapku orang stress, aku tak perduli. Bintang-bintang malam ini sangat sayang kalau dilewatkan dengan menonton televisi.
Bulan tetap kusam dalam pandanganku saat ini, aku tak tahu apakah saat ini Ima di Tarutung sana juga suka memandangi bulan yang menjadi saksi cinta kami ataukah dia sudah tidak perduli lagi padaku. Tiba-tiba kulihat bulan bersinar terang sekali dan berubah menjadi wajah Ima yang tersenyum, kupanggil namanya keras-keras.
“Ima, abang rinduuuuuuuuu !”
Ucok, ibu kost dan teman-temanku melihat perbuatanku dari bawah, mereka cuma geleng-geleng kepala sambil menaruh telunjuk mereka di dahi, setelah itu masuk lagi ke kamar. Aku tetap tak perduli.
Perlahan wajah Ima menghilang dan berubah menjadi sinar bulan yang terus meredup dan meredup sampai akhirnya kembali kusam. Suatu saat nanti Abang pasti akan kembali ke Tarutung dan melamarmu, Ima. Abang akan mempersembahkan bulan yang paling terang. Seperti janjiku pada Ima !
***************
Pengirim :
NUR CAHYO
Jl. Titimplik No. 17
Bandung 40133
(Maafkan saya kalau ceritanya terlalu dangdut !)
Langganan:
Postingan (Atom)
